Branding dalam sebuah produk merupakan salah satu usaha pemberian identitas pada sebuah produk yang dapat mempengaruhi konsumen untuk memilih suatu produk tersebut dibandingkan dengan produk pesaing lainnya. Proses sebuah branding bukan sekadar membesarkan merek produk saja. Namun, semuanya saling berkaitan dengan hal-hal yang kasat mata dari sebuah produk. Mulai dari logo produk, ciri visual, citra, kredibilitas, karakter, kesan, persepsi, dan anggapan yang ada di benak konsumen terhadap produk tersebut.

Branding produk yang dilakukan dengan benar akan membantu membangun kepercayaan konsumen sehingga mereka akan menggunakan dan bertahan pada produk mu. Sebaliknya, jika kegiatan branding produk dilakukan secara tidak profesional maka dapat memberikan dampak negatif pada usahamu loh. Seringkali ada beberapa kesalahan yang kerap terjadi ketika sebuah bisnis melakukan sebuah branding produk. Apa aja sih? Yuk, simak selengkapnya :

A. Memilihan Merek secara Random

Proses branding produk harus dimulai saat kamu memulai bisnis mu lalu tentukan merek untuk bisnismu. Terkadang pemilik usaha menganggap sepele untuk proses ini dan cenderung melakukannya dengan  random. Padahal ada banyak hal yang harus dipertimbangkan juga loh. Karena merek akan selalu ada  dan melekat di setiap produk, dokumen, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan bisnis. Sebaiknya kamu lakukan dlu  riset pasar untuk mengetahui apa yang mudah menarik perhatian konsumen.

Untuk bahan pertimbangan, kamu dapat memilih nama merek yang sederhana saja, namun lugas dan tidak terlalu spesifik. Nama yang sederhana dan lugas membuat calon konsumen lebih mudah mengingat sebuah merek dari sebuah produk. Disarankan pula memilih nama yang tidak terlalu spesifik sebagai antisipasi apabila dikemudian hari ingin mengembangkan bisnismu ke lini bisnis lainnya. Sehingga ketika hal ini terjadi, kamu tidak perlu mengganti nama dan memulai proses branding lagi dari awal.

B. Penggunaan Visual yang Terlalu Biasa

Selain nama merek, nama dan logo yang baik akan menggambarkan dan mengomunikasikan produkmu serta layanan yang dimiliki oleh usahamu kepada calon konsumen. Jika ingin merek dagangmu memiliki kekuatan, hal tersebut juga harus dibangun dengan menggunakan visual yang menarik. Oleh karena itu, untuk proses branding sebuah produk, usahakan untuk tidak menggunakan visual yang terlalu biasa tapi tidak desain yang terlalu rumit pula. Yang terpenting calon konsumen langsung tertarik dan mengingat merek ketika melihat logomu.

C. Kamu tak Memahami Selera Calon Konsumen

Hal penting lainnya yang tidak boleh terabaikan adalah ketika melakukan branding produk adalah memahami selera calon konsumen yang dituju. Jika dari awal kamu tidak menentukan calon konsumen yang akan dituju (target pasarmu), maka branding yang kamu lakukan akan sia-sia. Kamu bisa saja menyebarkan iklan dan promosi dengan gencar tanpa melihat background calon konsumenmu. Namun, ini justru menyebabkan rasa bosan dan jenuh untuk netizen sehingga apapun yang dipublikasikan akan lebih sering diabaikan. Lakukan riset dahulu sebanyak mungkin mengenai informasi calon pelanggan mulai dari data diri serta kebiasaan sehari-hari mereka. Semakin banyak informasi yang didapatkan maka akan semakin memudahkanmu menyesuaikan program branding yang akan dilakukan dengan kebutuhan calon konsumen produkmu. Dengan melakukan proses yang simpel, namun tetap bisa menyentuh orang yang tepat.

D. Menggunakan Media Sosial secara Tidak Tepat

Dijaman sekarang, penggunaan Media sosial bisa dibilang sebagai wadah inti yang tepat dalam melakukan branding produk. Hal tersebut sudah tidak mengherankan lagi, karena media sosial bisa digunakan oleh siapapun, kapanpun dan di mana pun. Saat ini hampir seluruh lapisan masyarakat mempunyai akun media sosial baik itu Facebook, Instagram, Twitter dan lain sebagainya.

Dengan potensi media sosial yang sangat besar ini, masih banyak pebisnis yang tidak memanfaatkannya secara tepat. Misalnya, menggunakan terlalu banyak akun dalam satu media social. Hal tersebut akan membuat bingung calon konsumen mana akun yang benar-benar resmi. Atau sebuah akun bisnis  tidak perlu berada di setiap platform media sosial. Cukup fokuskan konten branding di platform dengan basis konsumen yang potensial saja. Kemudian, mengunggah konten yang terlalu berlebihan. Menyajikan konten secara rutin merupakan sebuah keharusan, namun jangan terlalu berlebihan atau kontenmu terlalu sering muncul di timeline, karena itu justru akan membuat netizen merasa tergangggu dan mudah bosan.

Lakukan posting kontenmu secara bertahap dan tampilkan secara bervariasi. Sehingga ada hal-hal segar yang konsumen dapatkan setiap harinya. Satu lagi kesalahan lainnya adalah kurang komunikatif dengan netizen serta terlalu kaku. Ajak sesekali konsumen untuk bercengkrama, meminta pendapat mereka, memberikan saran, bermain games/give a way menarik dan lain sebagainya. Konten media sosial yang terlalu kaku akan membuat konsumen perlahan-lahan meninggalkan akunmu.

E. Terlalu Abai atau Terlalu Fokus terhadap Pesaing

Jangan sampaikamu mengabaikan kehadiran pesaing/kompetitor ya. Memperhatikan persaingan baik untuk perkembangan bisnis mu loh. Didalam dunia bisnis, kamu harus memperhatikan pesaing/kompetitor untuk memantau bagaimana kompetisi yang ada dilingkup bisnis yang sedang kamu tekuni. Dari sana kamu bisa menentukan strategi apa yang harus dilakukan agar lebih unggul dari pesaing/competitor mu.

Namun, memperhatikan pesaing/kompetitor juga tak boleh berlebihan loh. Karena jika terlalu fokus mencari cara untuk lebih unggul dari pesaing/kompetitor, bisa-bisa kamu malah menjadi pengikutnya atau basaha sekarang itu jadi follower. Hal ini malah akan membuat bisnismu  semakin tertinggal. Dari kelebihan pesaing/kompetitor, mulailah mencoba untuk mengunggulinya dengan cara yang berbeda. Karena tidak ada bisnis yang lebih baik, jadilah pemenang dengan menjadi berbeda.

6. Lupa untuk Branding produk secara Offline

Bisnis saat ini lebih cenderung berfokus pada branding produk secara online. KarenaBranding secara online dianggap lebih mudah dan efektif karena dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja, serta lebih menghemat biaya juga. Namun kamu juga tidak boleh mengabaikan proses branding secara offline loh. Calon konsumen yang  dituju juga perlu melihat secara langsung bagaimana produk/jasa yang kamu jual sebelum akhirnya memutuskan untuk memilih produk mu. Proses branding offline juga bisa dilakukan dengan menjalin hubungan baik dengan pihak luar, seperti komunitas. Karena sebuah bisnis tidak bisa melakukan branding tanpa bantuan dari pihak lainnya juga loh.

7. Mengabaikan Keseimbangan Branding produk dengan Kualitas

Sekeras apapun usaha yang dilakukan dalam branding, jika tidak diimbangi dengan kualitas produk dan layanan yang disediakan, konsumen tidak akan bertahan pada merekmu. Konsumen tidak selalu terpengaruh oleh janji yang diberikan dalam sebuah iklan. Menjanjikan suatu hal yang sangat besar dan mustahil justru akan menutup mata konsumen pada sebuah bisnis. Mereka tentu saja akan lebih memilih pada apa yang logis serta bermanfaat dan sesuai dengan kebutuhan. Dengan begitu, usaha dalam melakukan branding akan sia-sia jika tidak diiringi dengan kualitas produk yang dijanjikan.

Setelah mengetahui beberapa kesalahan yang sering terjadi dalam proses branding produk, diharapkan pemilik bisnis dapat mengantisipasi dan menemukan solusi yang tepat untuk bisa mengatasinya. Sehinggga kamu sebagai pemilik bisnis dapat menentukan strategi branding yang tepat. Lebih baik lagi jika kamu melakukan analisa bisnis secara berkala. Kamu dapat melakukannya dengan melihat laporan bisnis, termasuk laporan keuangan bisnis Anda.

Ikuti terus Social Media Chatat.id untuk dapat tips lainnya yang berkaitan dengan Bisnis, Pencatatan Keuangan dan Accounting.

Created by: Erfin Herfiani